Archive for February, 2008

siapa yang salah..?

Monday, February 25th, 2008

Siapa yang salah….? apa yang salah….? gue nggak tahu…

Siapa yang marah…? Apa yang bikin marah…? gue tahu tapi apa gue berhak untuk itu, gue tetep nggak tahu…

yang gue tahu, gue tersiksa….

yang gue tahu, gue masih sayang dia….sayang banget…

Tapi mungkin dia terlalu marah, terlalu kecewa, terlalu nggak ngerti semua tentang gue….

Now I’m wondering…

Apa masih ada ruang untuk sebuah maaf….?

Matikah menenggak madu? hanya jika kau terbalut rindu sendu maka manisnya akan perlahan membunuhmu…

Jika ya, aku akan memilih mati dengan mata terbuka…

Karena pejam akan membawanya lagi padaku….merayuku beku…

Rinduku meradang terhalang terkepal dendam,

Rintihku mengalun terselubung rimba amarah…

Namun Perlahan,

Kepal dendam meregang karena rindu semakin meradang,

rimba amarah terbabat senandung rintih mengalun tanpa putus….

22 Ferbuari 2008

Balada the rangers dan Balada kera

Monday, February 18th, 2008

Layar terbuka….Di hadapan gue secara perlahan terlihat pemandangan sekelompok kera dari berbagai jenis dan ukuran menatap balik ke arah gue…Luar biasa!! Di tangan “mereka” masing-masing terdapat satu buah alat musik..Gitar,drum, Bas betot yang super gede itu,organ,bahkan ukulele…Luar biasanya lagi,mereka semua bisa bicara…!! Mereka memainkan alat musik itu sambil guyon sana-sini…saling cela dan ejek dengan konyolnya…mau tak mau, kami yang menonton tertawa geli, ikut bernyanyi dan bertepuk tangan..tidak terlalu istimewa tapi cukup menghibur…

Nggak percaya? Mereka benar-benar ada…di wahana Balada Kera, Dunia fantasi…

Bertahun-tahun, dengan robot kera yang sama,dengan skenario yang sama, lay out panggung yang sama, lagu yang sama,bahkan guyonan yang sama (begitu kata bom2, sahabatku) Wahana itu tetap ada yang menonton…termasuk gue, bom-bom, dan Mbak Pipi (Boms2’s sister). Kami baru saja selesai berbasah-basah ria di Niagara-gara…Menunggu waktu maghrib,dan sekedar melepas lelah sebelum melanjutkan acara bermain kami memutuskan masuk wahana itu.

Selesai pertunjukkan, kami beranjak menuju musholla. Maghrib datang. Berbeda dengan suasana sebelum masuk wahana itu yang penuh kikikan tawa, gue dan bom2 terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Lama tak ada yang bersuara, Gue berinisiatif angkat bicara.

“Bom…coba ada anak-anak ya…pasti tadi kita di dalem ejek-ejekan juga sama kayak monyet2 itu…”

Bom2 mengangguk pelan.

“Iya Mi…gue juga kangen…pasti kita bakal lebih parah dari monyet2 itu…”

The rangers, Begitulah kami menyebut diri kami. Kombinasi manusia-manusia aneh dengan berbagai bentuk,dimensi,dan karakter. Perbedaan hanya menjadi warna. Pertengkaran hanya menjadi rona. Tapi satu yang kami tahu, kami hanya ingin bersama.. Kami saling menyayangi dengan cara kami masing-masing. Kami saling menggenapi tanpa perlu menghilangkan keganjilan pribadi. Kami bersama mengukir sejarah di hidup kami masing-masing, dengan kegilaan dan keegoisan masa akhir remaja dan gerbang dewasa. Saling terbelit, terkait, terikat namun leluasa bergerak tanpa perlu lenyap.

Tapi itu dulu.

Waktu dan hidup dengan ringannya memaksa kami melangkah masing-masing. Dengan arus yang telah ditentukan tiupan angin sang maha…

Gue, mesti putus sementara dari ilmu karena tuntutan hidup. Gue “ranger” pertama yang mencicipi kerasnya diinjak,disikut,dan ditelikung dalam dunia keras yang sesungguhnya, Sekaligus menikmati sepoinya kipasan-kipasan angin uang hasil jerih payah sendiri.

Berselang beberapa bulan setelah kelulusan, bom-bom dan elis menyusul ikut menikmati “indahnya” dunia yang udah gue masuki. Breki sampai saat ini sedang berjuang keras memasuki dunia ini juga.

Mamak,

Gatot,

Doddy,

Azis,

Semua melanjutkan mimpi untuk dunia yang lebih tinggi. Meraih apa yang saat ini belum bisa gue raih.

Arah, kondisi, tujuan, dan keinginan yang berbeda mengharuskan kami menelan pahit bulat-bulat. Waktu, jarak, dan berbagai faktor lainnya meminimkan interaksi kami satu sama lain. Prasangka, ego, keangkuhan, dan keacuhan perlahan mulai mengikis ikatan kami. Menggerogoti belitan persahabatan yang berarti. Dan semakin menjauhkan gue dari dunia penuh warna itu.

Gue kangen mereka….kangen saat-saat penuh atmosfer hidup itu…kangen saat-saat aura menyenangkan dan mengesalkan itu memenuhi dada gue…. kadang manis,tapi sesat…kadang pahit,tapi nikmat…

Apapun itu, semua bikin gue belajar….Pelajaran yang berharga banget buat gue…

Setelah sekian lama mencari dan mencoba mencuri waktu, akhirnya gue dan bom2 akhirnya bisa meluangkan waktu sama-sama…

Pertemuan menyenangkan namun sepi…

Tawa yang renyah, tapi tak meriah….

Gue sadar, sedikit banyak, gue bersalah….andil gue besar dalam penggerogotan perlahan hubungan luar biasa kami…hubungan istimewa yang gue tahu nggak akan tergantikan oleh apapun…area pribadi gue yang tersakiti perlahan membangun keangkuhan dan mengeraskan ego, menyulap gue jadi pribadi yang gue malu untuk menyebutnya. Tapi, apapun itu, gue tahu bagian terdalam di diri gue tetap menyimpan kepedulian dan rasa sayang teramat besar pada orang-orang berarti ini. Berharap suatu saat masih ada waktu yang digariskan sang maha untuk kami kembali duduk bersama, sekedar menikmati soto A3, ayam kecap sayur ala pedro, saling mengatai monyet, babon, wirog, atau beramai-ramai ngerental komputer A bubuy di sebelah kostan gue, sambil panik dengan deadline tugas pak sahala.

Rangers, wish you happy wherever you are….

Love you all….

Really…